adf.ly

Tampilkan postingan dengan label My self. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label My self. Tampilkan semua postingan

Rabu, 03 Maret 2010

Pr Yang Harus Diselesaikan




Halo sobat blogger yang lagi online maupun offline, kali ini sesuatu yang baru diberikan lagi buat saya. Mengapa saya mengatakan Sesutu yang baru ? hal ini memang sesuatu yang baru bagi saya karena tag ini adalah tag pertama saya yang diwariskan oleh sahabat blogger sekaligus guru saya Muhammad Yuliawan ,Sekali lagi pr ini tidak tahu mau di apakan, saya pun bertanya pada om google semua tentang tag dan akhirnya ketemu juga maksud dari tag itu dan aturan mainnya.

Dalam dunia blogosphere cara memperkenalkan diri tentunya agak sedikit berbeda,salah satu diantaranya adalah dengan menjawab tag yang di berikan ( copas dari metrolisa.info ) heheh,,

Nah dengan senang hati,tag ini saya kerjakan di bawah ini:
1. Where is your cell phone ?
Biasanya di simpan di saku bagian depan, sampai di sekolah,terkadang saya simpan dalam tas agar tidak ketahuan guru BK,,,,heheheh

2. Relationship ?
Gak terlalu suka berhubungan dengan orang yang gak di kenal,kecuali orang itu menyapa saya….

3. Your hair ?
Biasa-biasa aja, warnanya hitam dan lucu-lucu,,,,

4. Work ?
Masih berstatus pelajar sambil mempersiapkan diri menghadap UAN

5. Your sisters ?
Ada 3, yang pertama dah menikah, yang kedua dah naik haji, yng ketiga masih sekolah

6. Your favorit thing ?
Melakukan yang terbaik untuk blog tersayang agar bisa mencapai page rank tertinggi

7. Your dream last night ?
Gak usah di bahas dech,,agak memalukan,,,,heheheh

8. You favorit drink ?
Orange juice dan tak lupa air putih

9. Your dream car ?
Mobil yang hemat energi dan gak menimbulkan polusi\

10. Your shoes ?
Weidenman, dah hampir 3 tahun menemani ku di sekolah

11. Your fears ?
Aku takutnya sama Allah SWT

12. What do you want to be in 10 years ?
Bisa berguna bagi keluarga dan linkungan sekitar

13. Who did your hang out with last week ?
Ngumpul bareng ma teman-teman di markas Mandiri Net

14. What are you not good at ?
Ketika blog ku Error gara-gara Script yang dah mati

15. One your wish list item ?
Ingin melakaukan sesuatu yang lebih baik dari kemarin

16. Where you grew up ?
Lahir di Palu(sulawesi tengah), Tinggal di kendari (sulawesi tenggara) Selama 13 tahun, dan pindah ke soppeng (sulawesi selatan) sampai sekarang,,

17. Last thing you did ?g
blogwalking sambil tinggalkan jejak

18. What are you wearing ?
Baju dan celana donk

19. Your computer ?
Compaq Presario CQ20

20. Your pet ?
Gak ada,,,,
21. Your life ?
Sederhana saja sambil jalani hidup apa adanya,,,

22. Missing ?
Dari umur 9 tahun, saya dah kehilangan ayah,,,

23. What are you thinking right now ?
Bagaimana caranya lulus ujian nasional ??

24. Your car ?
Gak ada

25. Your kitchen ?
Dapurnya kecil tapi sembakonya lengkap,,,heheh

26. Your favorit color ?
Biru dan hijau

27. Last time you laugh ?
gak makan siang soalnya dompet saya tertinggal dirumah,,

28. Last time you cried ?
Jarang menangis tapi mudah sedih

29. Love ?
Keluargaku dan ciptaan Allah SWT

30. So who wants to share their ones ? How about ?
Sharing dengan semua orang tentang ilmu pengetahuan dan persahabatan

31. Person selected to the tag ( tag ini saya berikan kepada )
Ichwan The Rioter
Serta buat seluruh sahabat ku yang telah memberikan komentar terhadap postingan ini…

Aturan Mainnya :
Silahkan copy ke 31 daftar pertanyaan di atas dan anda jawab sesuai dengan kondisi anda. saya pikir semakin anda terbuka dalam menjawabnya,semakin asyik teman-teman mengikutinya, karena jadi tahu hal-hal kecil yang ada pada diri anda.Tapi jangan sampai menelanjangi diri sendiri.

Jumat, 13 November 2009

Benarkah Kita Sudah Mengenal Diri Sendiri?


Dalam pergaulan kerap ditemui orang yang persepsi tentang dirinya sendiri tidak klop dengan kenyataan. Tapi umumnya orang mengatakan, saya paham betul siapa dirinya.

Semakin tua orang diharapkan semakin matang. Bisa diibaratkan seperti bawang, yang terkelupas kulitnya satu per satu, sehingga tidak perlu membentengi dirinya dengan segala macam kebohongan atau kepura-puraan. Ia tak perlu topeng, sehingga hidupnya lebih enak, lebih ringan, karena menjadi diri sendiri.


Tapi tidak demikian dengan Bu Intan. Ia tak pernah menampilkan diri apa adanya. Wanita pintar berambut lebat ini lebih suka menarik diri dari pergaulan karena tidak bisa berbahasa Inggris.

“Dibanding teman-teman, saya bukan apa-apa,” katanya. Ia minder, merasa dirinya tidak pantas diperhitungkan dan tempatnya di belakang, karena tidak pernah bisa berkomunikasi jika ada tamu bule. Maka Bu Intan selalu menyingkir atau pura-pura sakit jika harus bertemu orang dari negara lain.Padahal teman-temannya tidak pernah menganggapnya remeh. Bu Intan bahkan sangat disukai dan dihormati, karena ia orang yang paling teliti dalam pekerjaan. Ia juga pendengar yang baik, sehingga menjadi tempat curhat teman-temannya.

Sayangnya hal-hal positif itu tidak dianggapnya penting, dan dia lebih menampilkan dirinya sebagai orang yang nilainya lebih rendah. Padahal, banyak orang lain yang tidak bisa bahasa Inggris tetap sukses dalam pekerjaan dan pergaulan.

Ini berkebalikan dengan Pak Badu, sebutlah begitu. Anak muda yang belum lama masuk dunia politik ini, menilai dirinya terlalu besar. Dengan posisi politik dan kedudukannya sebagai anggota DPR, ia mengira bisa mengatur negara dan menentukan ini itu seperti yang diinginkannya.

Di hadapan rekan-rekannya dalam suatu acara reuni misalnya, dia bisa berkata, “Oh, gampang itu. Saya akan atur nanti supaya si Itu dilepaskan dari kabinet dan diganti dengan si Ini.”

Dalam acara dengar pendapat dengan seorang penegak hukum yang reputasi, integritas, dan moralnya sangat bagus dia berkata, “Saya ingin menguji Saudara….,” atau bahkan, “Saya ingin menasihati Saudara….”

Mendengar itu semua, teman yang mengenal Pak Badu terheran-heran. “Dia itu siapa, kok, berani-beraninya bicara begitu kepada orang tua yang sangat disegani itu.” Temannya yang lain berkomentar, “Kasihan betul Badu ini, dia sudah tidak kenal lagi siapa dirinya.”

Kenyataan dan Asumsi
Mengapa orang bisa seperti itu? Mengapa harus membohong terus? Mungkin mereka dan bahkan kita sendiri mencoba tampil seperti yang kita kira bagus, tapi sebetulnya tidak sesuai dengan kenyataan diri kita.

Lalu, siapa diri kita sebenarnya? Apa yang kita tahu betul tentang diri kita? Apakah kita tahu tentang kelemahan dan kekuatan kita? Dan apa yang kita kira kita tahu tentang diri sendiri itu lantas terbukti atau sesuai dengan kenyataan? Kalau itu kelebihan, apakah orang lain juga mengakuinya? Dan kalau itu kita kira sebagai kekurangan, apakah orang lain juga mengakui itu kekurangan kita?

Semakin mendekati jarak antara kenyataan dengan apa yang kita asumsikan tentang diri kita, itu berarti baik karena kita mengenal diri sendiri. Begitu pula sebaliknya. Semakin jauh jarak antara kenyatan dengan apa yang kita perkirakan tentang diri sendiri, artinya buruk sekali pengenalan diri kita.

Apa akibatnya jika orang tidak kenal dirinya, sehingga jarak antara asumsi dan kenyataan tentang diri sendiri begitu jauh? Tak bisa lain, orang itu harus terus berusaha mengingkari kenyataan tentang dirinya. Barangkali dalam kenyataan sehari-hari muncul dan sering kita temui dalam bentuk over compensation, membual, melebih-lebihkan, atau bahkan mengecilkan orang lain untuk meninggikan diri sendiri, berbohong dan seterusnya jika merasa dirinya paling hebat. Ia tidak berpijak pada kenyataan, sehingga dalam bekerja biasanya hanya omong doang.

Begitu pula sebaliknya orang yang mengira diri sendiri negatif, akan sangat minder, menarik diri dari pergaulan, mengurung diri, tidak mau melakukan apa pun. “Apalah artinya saya, siapa yang mau mendengarkan saya,” adalah contoh ungkapan yang sering diucapkan orang dengan persepsi diri negatif. Orang ini sebetulnya sangat tertekan pada kelemahan dirinya.

Baik yang menilai dirinya terlalu tinggi maupun terlalu rendah, keduanya tidak sesuai kenyataan dan itu berarti jelek. Hal ini secara mental atau psikologis tidak sehat. Orang yang selalu pakai kedok akan capek, lalu memberikan stres yang besar pada diri sendiri.

Solusi
Dalam psikologi ada konsep yang disebut Johari Window atau Jendela Johari, yang menggambarkan pengenalan diri kita. Ada empat jendela dalam Jendela Johari.

(1) Jendela terbuka. Hal-hal yang kita tahu tentang diri sendiri, tapi orang lain pun tahu. Misalnya keadaan fisik, profesi, asal daerah, dan lain-lain.
(2) Jendela tertutup. Hal-hal mengenai diri kita yang kita tahu tapi orang lain tidak tahu. Misalnya isi perasaan, pendapat, kebiasaan tidur, dan sebagainya.
(3) Jendela buta. Hal-hal yang kita tidak tahu tentang diri sendiri, tapi orang lain tahu. Misalnya hal-hal yang bernilai positif dan negatif pada kepribadian kita.
(4) Jendela gelap. Hal-hal mengenai diri kita, tapi kita sendiri maupun orang lain tidak tahu. Ini adalah wilayah misteri dalam kehidupan.

Semakin besar daerah/jendela terbuka kita akan semakin baik, karena berarti kita mengenal diri secara baik. Orang yang memiliki daerah tertutup lebih besar akan mengalami kesulitan dalam pergaulan. Adapun mereka yang memiliki daerah buta sangat besar, bisanya akan membuat orang lain merasa kasihan.

Kepada orang yang kita kenal dekat, jendela itu harus dibuka semakin besar, juga bila kita ingin bekerjasama dengan orang lain. Bagaimana membuka jendela? Bagaimana kita bisa kenal diri sendiri? Bagaimana kita memiliki jendela terbuka yang semakin besar?

1. Bersedia menerima umpan balik, secara verbal maupun non-verbal.

a. Bersedialah untuk menerima kritik, saran dan pendapat dari orang lain tentang diri kita. Kalau ada orang yang memberikan kritik sangat pedas, ada baiknya dikaji. Jika merasa tidak benar, tanyakan, mengapa dia mengungkapkan hal itu, cari klarifikasi, dan bukan membalas menghajarnya atau mengkritik balik. Kritik adalah bentuk umpan balik yang berisi informasi negatif tentang diri kita, yang mungkin kita anggap kelemahan. Harusnya kritik itu berisi saran, karena kritik itu berarti menunjukkan kesalahan dan harus bisa memberitahu bagaimana jalan keluarnya

b. Kita juga harus mau lebih membuka diri. Ungkapkan kalau ada uneg-uneg, kekesalan, kejengkelan dan sebagainya. Bisa lisan bisa tertulis harus diungkapkan terus terang. Bisa juga kita membuka kekuatan atau kelemahan diri kita,dibagi kalau berupa kekuatan. Ini cara supaya orang lain lebih mengenali diri kita, dan kita pun makin tahu tentang diri sendiri. Kita tidak mungkin mengenali diri sendiri hanya dari muka cermin, tapi juga melalui orang lain supaya kita mendapat gema atau echo dari orang lain.

2. Bagaimana cara kita membuka diri? Banyak bergaul, berteman baik, memperluas hubungan interpersonal dan berkomunikasi. Dengan cara ini kita akan mendapat masukan dari banyak orang. Semakin luas pergaulan akan mendapat masukan lebih banyak mengenai diri kita. (Widya Saraswati)

Sumber Kompas